Jumaat, 1 Januari 2016

[Belia] Dialog dengan Pimpinan KPK, 2015-2019

 

Dialog dengan Pimpinan KPK, 2015-2019Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Pimpinan baru Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK): Agus Rahardjo, Basaria Panjaitan, Alex Marwata, Laode Muhammad Syarif,Saut Situmorang, menjalani masa induksi selama seminggu untuk mendapatkanmasukan dari berbagai pihak sebagai bahan pertimbangan bagi mereka dalammelaksanakan tugasnya empat tahun ke depan. Franz Magnis-Suseno dan saya dapatgiliran pada Rabu, 23 Desember 2015, pukul 13.20-15.15, bertempat di kantorKPK, Jakarta.
Kelima pimpinan hadir, dimoderatori denganlancar oleh Kepala Diklat KPK (Rosana Fransisca). Jadi, ada tujuh orang yanghadir dalam pertemuan siang itu.
Kepada kami diminta untuk menggambarkan harapanpublik terhadap pimpinan KPK yang baru dilantik Senin, 21 Desember, olehPresiden Joko Widodo. Saya yang diminta bicara lebih dulu. Biasa, saya jelaskanbahwa di antara anak kandung gerakan Reformasi, KPK adalah yang paling tinggimendapat perhatian publik karena lembaga ini dinilai relatif berhasil melawankorupsi, sekalipun sebenarnya indeks persepsi korupsi Indonesia tahun 2015masih berada pada angka 117 dari 175 negara di dunia.
Dengan demikian, sebenarnya tingkat korupsi diIndonesia masih sangat tinggi sejak UU Anti Korupsi No 30/2002 mulaidilaksanakan pada 2003. Sudah 12 tahun berjalan, kinerja KPK dinilai yangpaling fenomenal memberantas korupsi, sekalipun indeks persepsi publik masihdengan angka di atas.
Karena kejahatan korupsi sudah menjadi darahdaging di Indonesia, proses pemberantasannya sungguh sangat sulit. Yangdiperlukan bukan hanya revolusi mental, melainkan amputasi mental.
Mengapa sulit? Kepada para komisioner itu sayategaskan: negara tidak sungguh-sungguh untuk membasmi korupsi itu. Negara disini diwakili oleh pemerintah dan DPR yang selama ini lebih banyak mengumbarretorika tinimbang mendukung KPK secara riil dalam menjalankan tugas UU diatas.
Dalam perjalanan ke KPK, saya dititipi pesanoleh seorang pengusaha barang kelontong dengan kalimat yang menggelitik ini,"ISIS saja berani mati membela kesesatan, KPK tentu juga berani mati untukmembela kebenaran." Pesan ini saya bacakan kepada para komisioner itu yangditanggapi dengan bertepuk tangan.
Semoga saja tepuk tangan ini sebagai tandasetuju, bukan karena gaya pesannya dengan bahasa perbandingan yang sedikitmenyentak. Saya tambahkan agar para komisioner akan tampil sebagai petarungsejati untuk membebaskan dan menyelamatkan negeri ini dari kanker korupsi.
Magnis-Suseno menyarankan agar para komisioneryang baru tidak perlu menghiraukan pesimisme publik terhadap mereka dengansyarat langkah mereka ke depan benar-benar nyata untuk melawan korupsi sehinggamampu membangun optimisme kembali. Tentu, kita berharap pimpinan KPK yangsekarang ini memang bertekad bulat untuk menghalau korupsi itu sampai ke batasyang sangat jauh, sesuatu yang masih harus kita tunggu.
Saya katakan dalam tempo dua-tiga bulan, publikakan membaca arah kebijakan mereka apakah akan bisa menepis pesimisme atautidak. Sebagai seorang yang berpikir positif, saya lebih bijak menanti kinerjamereka daripada memberi hukuman di awal perjalanan.
Kini, giliran para komisioner untuk memberitanggapan terhadap apa yang kami sampaikan. Dimulai oleh ketuanya, AgusRahardjo. Ditegaskannya bahwa tingkat korupsi sudah demikian parah, trust (kepercayaan)publik begitu rendah kepada lembaga-lembaga negara. Masjid, gereja, danlain-lain rumah ibadah tidak banyak berfungsi melawan korupsi.
Diteruskan oleh Basaria Panjaitan bahwa gagasanrevisi UU KPK adalah untuk memperkuat lembaga ini, bukan untuk melemahkannya.Dikatakan bahwa mereka berlima kompak sekali. Tentu, pernyataan-pernyataansemacam ini perlu pembuktian dalam perjalanan waktu sebagai ujian bagikepemimpinan mereka. Katanya, komunikasi internal akan dilakukan terus-menerus,termasuk dengan Magnis-Suseno dan Syafii Maarif.
Seperti dikatakan Basaria, Laode M Syarif jugaakan tetap menghubungi Magnis-Suseno dan Syafii Maarif untuk minta saran-saran.Sekalipun, katanya, dipilih oleh lembaga politik, "tetapi kami adalah KPK".Ketika saya usulkan agar dibentuk Badan Pengawasan Independen untuk KPK, olehLaode dijawab bahwa mereka telah menyetujui usul itu.
Komisioner Alex Marwata mengatakan bahwa korupsibisa dideteksi sejak dini karena para koruptor biasa membuat perusahaan fiktif.Oleh sebab itu, kata Alex, rakyat dimohon selalu memberikan info kepadaKPK.Terakhir, komisioner Saut Situmorang mengatakan bahwa UU Tipikor 1971 sudahcukup bagus, tetapi tidak dijalankan. Lalu, Saut bertanya, "Ada apa denganperadaban kita?"
Itulah sekadar kepingan-kepingan dialog antarakami dan pimpinan KPK angkatan keempat ini. Untuk selanjutnya kita tunggujanji-janji mereka di tengah-tengah pesimisme yang merata di kalangan rakyatbanyak terhadap mereka. []

* Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua UmumPimpinan Pusat Muhammadiyah

Sumber, Republika 29 Desember 2015

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Bambang Tribuono <bambang_tribuono@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Egroups kendalian http://www.kokpasir.com

.

__,_._,___

Tiada ulasan: