Rabu, 27 Januari 2016

[Belia] Karut-Marut Pendidikan Sejarah

 

Karut-Marut Pendidikan Sejarah Oleh: Asvi Warman Adam
Revisi terhadap kurikulum pendidikan akandiselesaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Februari 2016. Namunterdapat masalah yang kompleks di sana, khususnya dalam pendidikan sejarah.Persoalan itu menyangkut buku pedoman yang tidak tersedia, buku teks yang tidakdapat diandalkan, dan kurikulum yang semrawut.
Sejak 1975, buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) menjadi buku pedomanpengajaran sejarah di sekolah. Jilid terakhir, yang membahas peralihankekuasaan 1965/1966, paling banyak dikritik. Dimensi politisnya sangat kental,yakni memberi legitimasi kepada rezim Orde Baru yang dipimpin Jenderal Soehartodan mereduksi peran Sukarno dalam sejarah Indonesia.
Pada awal reformasi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Sudarsonomenganggap buku SNI tidak layak lagi dijadikan buku pegangan,sehingga perlu disusun buku pengganti. Setelah proses yang panjang selamasatu dekade, pada Desember 2012 terbitlah buku Indonesia dalam Arus Sejarahdalam 8 jilid. Buku ini masih bisa menjadi rujukan, terutama jilid-jilidawalnya. Yang tetap menjadi persoalan adalah jilid terakhir (7 dan 8), yangmengandung peristiwa sejarah kontroversial. Namun persoalan utamanya adalahbuku itu dijual dengan harga Rp 6 juta, dan hak ciptanya sudah diserahkankepada penerbit swasta sehingga tidak bisa diunduh secara gratis.
Setelah melakukan sedikit perbaikan pada 1999 (revisi), kurikulum 1994, yangmenekankan substansi mata pelajaran, bergeser ke kompetensi siswa pada 2004.Tidak ada alasan yang kuat dalam penggantian kurikulum berbasis kompetensi(KBK) pada 2004 menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada 2006,kecuali memberi kesempatan dari daerah sampai sekolah untuk berkreasimelengkapi kurikulum tersebut. Faktanya, hal ini juga tidak berjalan lancar.
Dalam kurikulum 2013, terlihat bahwa struktur pendidikan sejak SD sampai SMAdimulai dengan nilai agama, dan semuanya dikaitkan dengan agama. Kompetensiinti dari kelas I SD sampai kelas XII SMA adalah sama, yakni "menghayatidan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya". Kompetensi inti adalahbentuk kualitas yang dimiliki oleh mereka yang telah menyelesaikansatuan/jenjang pendidikan tertentu yang mencakup pengetahuan, sikap, sertaketerampilan (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Kompetensi dasar merupakankompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dariKompetensi Inti. Tidak ada masalah bila kompetensi "menghayati danmengamalkan ajaran agama" itu diberlakukan khusus untuk mata pelajaranagama. Tapi tampak dipaksakan bahwa kualitas yang dihasilkan setelah belajaraljabar, ilmu pengetahuan alam, bahasa Indonesia, geografi, dan lain-lainadalah kesalehan siswa dalam mengamalkan ajaran agamanya.
Kompetensi dasar SMA kelas X untuk mata pelajaran bahasa Indonesia adalah"mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia danmenggunakannya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukanbangsa". Memang bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang mempersatukanbangsa, tapi apa perlu ditekankan bahwa bahasa Indonesia itu merupakan anugerahTuhan? Dalam kompetensi dasar sejarah Indonesia SMA kelas X dicantumkan"menghayati keteladanan para pemimpin dalam mengamalkan ajaranagamanya". Pelajaran sejarah jelas menguraikan perjuangan para pemimpinbangsa dalam merebut dan mengisi kemerdekaan. Hal ini tentu patut diteladani,tapi perjuangan tersebut tidak otomatis semuanya berkaitan dengan ajaran agama.
Lantas, apa yang akan dihasilkan dari mata pelajaran agama Islam dan budipekerti SMA kelas X? Dua di antaranya adalah "meyakini kebenaran hukumIslam" dan "berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat Islam dalamkehidupan sehari-hari". Menteri Pendidikan M. Nuh mendapat gagasan tentangkonsep kurikulum 2013 saat menunaikan ibadah umrah pada 2006. Konsep itu adalahtazkiyah (attitude), tilawah (pengetahuan), dan ta'alim (keterampilan).Sebetulnya konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik sudah dikenal luas dalambidang pendidikan walaupun tidak menggunakan istilah berbahasa Arab.
Untuk keperluan pengajaran sejarah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telahmenyediakan berbagai buku teks yang dapat diunduh secara gratis, termasuk bukuteks untuk pengajaran sejarah tahun 2009. Pada tingkat SMP, pengajaran sejarahtermasuk IPS (ilmu pendidikan sosial). Buku-buku teks tersebut ditulis, antaralain, oleh Suprihartoyo dkk, Agung Feryanto dkk, dan Endar Wismulyani dkk.Buku-buku tersebut memiliki banyak kekurangan, seperti masih menggunakanistilah G-30-S/PKI, padahal gerakan tersebut menyebut dirinya Gerakan 30September. Presiden Soekarno didiskreditkan dalam tragedi nasional 1965:"Sungguh mahal harga yang harus dibayar oleh bangsa ini akibat inovasipolitik Bung Karno". Pada buku teks yang lain ditulis: "Segala bentukpertentangan antara angkatan darat dengan PKI juga diperburuk olehketidaktegasan presiden dalam menengahi masalah tersebut. Ditambah, kondisikesehatan presiden ketika itu mulai memburuk dan sering sakit-sakitan, sehinggapresiden kurang begitu memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi dalam duniapolitik Indonesia."
Sementara itu, PRRI/Permesta tidak lagi dikategorikan pemberontakan, melainkan"pergolakan sosial politik". Penyebabnya: "kurangnya perhatianpemerintah terhadap kesejahteraan prajurit di daerah". Hal ini tampaknyasejalan dengan diangkatnya M. Natsir dan Sjafruddin Prawira yang terlibat PRRIsebagai pahlawan nasional. [] TEMPO, 22 Januari 2016 AsviWarman Adam | Sejarawan LIPI

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Bambang Tribuono <bambang_tribuono@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Egroups kendalian http://www.kokpasir.com

.

__,_._,___

Tiada ulasan: