Isnin, 22 Februari 2016

[Belia] Bebas Sampah: Kurangi dan Kelola Sampah Tangga Tanpa Insinerator

 

Hari Peduli Sampah, 21 Februari 2016
Bebas Sampah: Kurangi dan Kelola Sampah Tangga Tanpa Insinerator

Produksi sampah rumah tangga dan non rumah tangga di wilayah Jawa Barat sudahterus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan pada perhitungan Walhi JawaBarat, produksi barang rumah tangga, makan, minuman dll yang dikonsumsi olehpenduduk Jawa Barat telah semakin meningkatkan produksi sampah mencapai 27.000ton/hari, ini bisa terus meningkat seiring penambahan populasi penduduk danproduksi barang rumah tangga dan non rumah tangga.  Dadan Ramdan, Direktur Walhi JawaBarat menyatakan, dimana-mana ada sampah, di perkotaan hingga perdesaan, dijalan, di sungai, di kali, di sawah hingga di gunung dan hutan. Dari berbagairiset yang dilakukan, 60% sampah yang dihasilkan berupa sampah organik yangbisa dikompos, 40 % sampah bukan organik seperti sampah plastik, kertas,elektronik, botol, kaleng dll. Sampah menjadi masalah serius jika tidakdiantisipasi dari sekarang. Diperlukan kebijakan pemerintah dan pemerintahdaerah dalam  jangka panjang yang lebihantisipatif dan kuratif dari hulu hingga hilir. Dampak lainnya jika sampah tidakdiurus, berpotensi menimbulkan ancaman bagi kesehatan dan pencemaran sertakerusakan lingkungan.  Dadan Ramdan mengatakan, di sisilain, pola penanganan sampah pun belum mengalami perubahan secara sistemik dan paradigmatikmulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah padahal Undang-Undang No18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah memandatkan adanya perubahan sistemdan paradigma dalam pengelolaan sampah baik aspek pencegahan dan penanganansampah dari hulu hingga hilir.   Pola penanganan sampah yang masihmengandalkan TPAS dengan pola kumpul, angkut dan buang yang dipusatkan ke suatutempat, hanya akan memindahkan sampah belaka dari satu tempat ke tempat lain danterbukti telah menjadi bencana seperti peristiwa longsor TPA Leuwi Gajah yangmenewaskan sekitar 157 orang, serta penangan di TPA-TPA lainnya di Jawa Baratyang menimbulkan masalah kerusakan lingkungan, pencemaran dan konflik sosial.  Pola sentralistik denganmengandalkan TPAS dalam sebuah wilayah harus mulai perlahan-lahan ditinggalkan.Selain itu, kebijakan pemerintah akan menggunakan incinerator/mesin pembakarsampah dalam penanganan sampah perlu dipertimbangkan kembali karena akanmenimbulkan masalah lingkungan baru dan mahal.  Dalam momentum Hari Peduli Sampah tahun 2016 dengantema bebas sampah 2020, Kami, mengajak semua pihak untuk peduli pada sampahkita sendiri dan kami menawarkan pola pengelolaan sampah ke depan dilakukandalam dua aspek yaitu pencegahan dan penanganan/pengelolaan yang terhubung darihulu sampai hilir. Dalam aspekpencegahan, perlu terobosan pemerintah dan pemerintah daerah menekan pelakuusaha untuk mengurangi produksi barang-barang kemasan di hulu, paling tidakmengurangi penggunaan plastik, Kata Dadan Ramdan.  Dalam aspek penanganan ataupengelolaan, pemerintah bisa membuatkebijakan dan sistem pengelolaan sampah tanpa mesin pembakaran/incinerator,pemerintah bisa mengembangkan sistem penanganan sampah melalui  composting, biodegester dan sistem daur ulangyang dijalankan dalam skala kecil dan melibatkan komunitas/masyarakat yangaktif mengelola sampah sebagaimana mandat undang-undang pengelolaan sampah. Selain itu, perlu ketegasan pemerintahuntuk menekan agar pelaku usaha mewajibkan mendaur ulang dan memanfaatkansampah dari produk kemasaannya sendiri, sebagaimana mandate undang-undang.  Tentu, upaya penanganan sampah perluditunjang dengan keseriusan pemerintah dan pemerintah daerah untukmenumbuhkembangkan kesadaran warga melalui pendidikan akan pentingnyamengurangi dan mengelola sampah mulai rumah tangga kepada warga, kata DadanRamdan.

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Lukman Wiyono <wiyonolukman@yahoo.com>
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Egroups kendalian http://www.kokpasir.com

.

__,_._,___

Tiada ulasan: